BABELPRIME.ID, PANGKALPINANG — Perbincangan warganet di media sosial ramai menyoroti beredarnya foto dan video dari sebuah akun Instagram yang dinilai menampilkan pose tidak pantas di area rumah ibadah. Konten tersebut diketahui diunggah melalui akun @gelbytpmatthew_new, kemudian menyebar luas dan memantik beragam reaksi masyarakat.
Informasi yang beredar menyebutkan lokasi pengambilan gambar diduga berada di Klenteng Fuk Tet Che, Pangkalpinang, yang merupakan tempat ibadah umat Konghucu. Karena itu, sebagian masyarakat menilai konten tersebut tidak sesuai dengan norma kepatutan, mengingat rumah ibadah memiliki nilai sakral dan harus dijaga kesuciannya.
Sejumlah komentar warganet di kolom unggahan menuntut agar ruang ibadah tidak dijadikan latar konten yang berpotensi menyinggung perasaan umat beragama. Kritik yang muncul umumnya mengarah pada tindakan dan konteks pengambilan konten, bukan pada aspek identitas pribadi pemilik akun.

Di tengah polemik, muncul pula perbincangan yang menyerempet identitas personal pemilik akun. Kasus ini kembali menegaskan satu hal mendasar—ruang digital bukan wilayah tanpa etika. Ketika konten bersentuhan dengan simbol agama dan kesucian tempat ibadah, kebebasan berekspresi berhadapan langsung dengan batas moral publik. seharusnya pada tindakan yang dianggap tidak patut di ruang suci, bukan pada latar belakang individu.
Selain itu, akun yang sama juga terpantau mengunggah konten lain pada dini hari, yang memperlihatkan aktivitas di tempat hiburan malam. Dalam unggahan tersebut, pemilik akun terlihat menggunakan kostum yang disebut serupa dengan yang digunakan dalam konten di lokasi rumah ibadah.

Menindaklanjuti polemik ini, awak media masih berupaya menghubungi pemilik akun untuk meminta klarifikasi. Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari pemilik akun maupun pihak pengurus klenteng atau tokoh agama Konghucu terkait unggahan tersebut.
Masyarakat berharap persoalan ini dapat ditangani secara bijak, transparan, dan sesuai aturan yang berlaku, agar tidak berkembang menjadi kegaduhan berkepanjangan serta tidak mengganggu harmoni sosial di Pangkalpinang.
(Redaksi/Jendela Grup)











